MATERI THOHAROH (Bersuci dari Hadas dan Najis)
Hallo, Sobat Baca

menghilangkan (membersihkan) hadats dan najis.
Hadats adalah sesuatu yang membatalkan wudlu dan tayamum.
Hadats ada dua macam:
tempat shalat. Seperti kotoran, air kencing, darah haid, darah nifas.
B. Thaharah Hissiyah
Thaharah hissiyah adalah bersuci jasmani, atau membersihkan bagian tubuh dari sesuatu yang
terkena najis (segala jenis kotoran) maupun hadas (kecil dan besar).
Alat untuk bersuci :
1. Air
2. Tanah
A. ISTINJA

THAHARAH
( َط َّهَرة )
Thaharah menurut bahasa adalah bersuci, sedangkan menurut istilah adalahmenghilangkan (membersihkan) hadats dan najis.
Hadats adalah sesuatu yang membatalkan wudlu dan tayamum.
Hadats ada dua macam:
- Hadats kecil misalnya kentut, kencing ,buang air besar
- Hadats besar misalnya haid,nifas, jima & ihtilam (mimpi jima)
tempat shalat. Seperti kotoran, air kencing, darah haid, darah nifas.
Thaharah pun terbagi menjadi dua bagian seperti:
A. Thaharah Ma'nawiyah
Thaharah ma'nawiyah merupakan membersihkan aqidah dari syirik (musyrik) khurofat,
tahayul, membersihkan ibadah dari bid’ah dan membersihkan segala penyakit hati yaitu iri,
dengki, riya dan lainnya.
Pasalnya, thaharah ma'nawiyah ini penting dilakukan sebelum melakukan thaharah hissiyah,
karena ketika bersuci harus dalam keadaan bersih dari sifat-sifat tersebut.
A. Thaharah Ma'nawiyah
Thaharah ma'nawiyah merupakan membersihkan aqidah dari syirik (musyrik) khurofat,
tahayul, membersihkan ibadah dari bid’ah dan membersihkan segala penyakit hati yaitu iri,
dengki, riya dan lainnya.
Pasalnya, thaharah ma'nawiyah ini penting dilakukan sebelum melakukan thaharah hissiyah,
karena ketika bersuci harus dalam keadaan bersih dari sifat-sifat tersebut.
B. Thaharah Hissiyah
Thaharah hissiyah adalah bersuci jasmani, atau membersihkan bagian tubuh dari sesuatu yang
terkena najis (segala jenis kotoran) maupun hadas (kecil dan besar).
Alat untuk bersuci :
1. Air
2. Tanah
Istinja adalah membersihkan sesuatu (najis) yang keluar dari Qubul atau Dubur menggunakan air atau batu dan benda sejenisnya yang bersih dan suci. Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi dalam Fikih Empat Madzhab Jilid 1 menjelaskan, istilah ini disebut juga dengan Istitha'ah atau istijmar.
Hanya saja, istijmar biasanya dikhususkan untuk istinja dengan batu. Istijmar sendiri diambil dari kata al-jimar yang berarti kerikil kecil. Sedangkan, disebut juga dengan istithabah karena dampak yang ditimbulkannya (membersihkan kotoran) membuat jiwa terasa nyaman.
Sebagian ulama menjelaskan secara terperinci hukum istinja menjadi 6 jenis. Antara lain sebagai berikut:
1. Wajib: Istinja hukumnya wajib jika yang keluar adalah najis yang kotor lagi basah. Seperti air seni, madzi, dan kotoran manusia.
2. Sunnah: Istinja hukumnya sunnah jika yang keluar adalah najis yang tidak kotor. Contohnya cacing.
3. Mubah: Jika beristinja dari keringat.
4. Makruh: Istinja hukumnya makruh jika yang keluar adalah kentut.
5. Haram: Haram namun sah jika beristinja dengan benda hasil Ghasab. Istinja hukumnya haram dan tidak sah jika beristinja dengan benda yang dimuliakan seperti buah-buahan.
6. Khilaful Aula yakni antara mubah dan makruh: Jika beristinja dengan air zam-zam.
TATACARA ISTINJA
Secara umum, tata cara beristinja ada tiga:
1. Menggunakan air dan batu. Cara ini merupakan cara yang paling utama. Batu dapat menghilangkan bentuk fisik najis. Sementara itu, air yang digunakan harus suci dan menyucikan. Air tersebut dapat menghilangkan bekas najis.
2. Menggunakan air saja.
3. Menggunakan batu saja.
Adapun, batu yang diperbolehkan untuk beristinja haruslah suci, bukan najis atau terkena najis, merupakan benda padat, kesat, dan bukan benda yang dihormati.
Dalam Islam, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan saat buang hajat. Antara lain:
1. Istibra, yaitu mengeluarkan kotoran yang tersisa di dalam makhraj, baik itu air kencing maupun kotoran, sampai dirasa tidak ada lagi kotoran yang tersisa.
2. Diharamkan buang hajat di atas kuburan. Alasan mengenai pendapat ini karena kuburan adalah tempat di mana orang bisa mengambil nasihat dan pelajaran. Maka, termasuk adab sangat buruk jika seseorang justru membuka aurat di atas kuburan dan mengotorinya.
3. Tidak boleh membuang hajat pada air yang tergenang. Diriwayatkan dari Jabir, Rasulullah SAW melarang kencing pada air yang tergenang (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan yang lainnya).
4. Dilarang buang hajat di tempat-tempat sumber air, tempat lalu lalang manusia, dan tempat bernaung mereka. Pendapat ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits.
5. Dilarang buang hajat dengan menghadap atau membelakangi kiblat.
6. Dimakruhkan bagi orang yang membuang hajat untuk melawan arah angin. Sebab, dikhawatirkan adanya percikan air kencing yang membuatnya terkena najis.
7. Dimakruhkan bagi orang yang sedang buang hajat untuk berbicara. Namun, apabila memang ada kebutuhan maka diperbolehkan untuk berbicara, seperti meminta gayung untuk membersihkan najis.
8. Dimakruhkan menghadap matahari dan bulan secara langsung. Sebab, keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan nikmat-Nya bermanfaat bagi seluruh alam semesta.
Dianjurkan untuk istinja dengan tangan kiri. Sebab, tangan kanan digunakan untuk makan dan sebagainya.
B. WUDHU
Secara Bahasa, wudhu (وضوء) artinya adalah “bagus dan cemerlang.”
Secara Syara’ (Istilah), wudhu (وضوء) adalah istilah untuk suatu kegiatan yang menggunakan air untuk membasuh anggota badan tertentu untuk menghilangkan hadas kecil dengan disertai niat.
Hukumnya adalah wajib bagi orang yang berhadats apabila ia ingin melakukan sholat, thawaf, dan berbagai ibadah yang mensyaratkan suci dari hadats kecil.
Perintah tentang wudhu terdapat dalam QS al maidah :6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.
RUKUN WUDHU:
1. Niat
2. Membasuh muka
3. Membasuh tangan sampai siku
4. Mengusap kepala
5. Mengusap/membasuh kaki sampai mata kaki
6. Tertib
Hitungan dalam Wudhu
a. Berwudu satu kali-satu kali
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما :تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم " مَرَّةً مَرَّةً رواه البخاري
Ibnu ‘Abbas RA berkata “Nabi SAW berwudlu satu kali – satu kali .HR bukhory
b. Berwudlu duakali – dua kali atau tiga kali - tiga kali keculi mengusap kepala
قَالَ عَبْدُ الله بْنُزَيْدٍ رضي الله عنهما :تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم " مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ
(رواه البخاري)
Abdullah ibnu zaid RA berkata “Nabi SAW berwudlu dua kali –dua kali .HR bukhory
قَالَ عَلِيٌّ رضي الله عنه :تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم " ثَلَاثًا ثَلَاثًا سنن الترمذي
‘Aliy RA berkata“Nabi SAW berwudlu tiga kali –tiga kali (sunan at tirmidziy)
فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً
Maka ia menyapu kepalanya satu kali
Kaifiyat Amaliah wajib & sunah dalam berwudhu:
1. Niat
2. Membaca al basmallah
3. Mencuci tangan sampai pergelangan
4. Berkumur – kumur
5. Menghirup air ke hidung (istinsaq)
6. Mencuci muka
7. Membasuh tangan sampai siku
8. Mengusap kepala\kerudung\sorban
9. Mengusap telinga
10. Membasuh kaki sampai mata kaki
11. Berdo’a
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ
C. TAYAMUM
Tayamum adalah menyapu/ mengusap muka dan kedua tangan sampai pergelangan,sebanyak satu kali dengan tanah yang bersih untuk menghilangkan hadats.
Ketentuan Tayamum :
1. Tayamum dilakukan oleh orang yang sakit ( tidak boleh kena air)
2. orang yang sedang dalam perjalanan,
3. orang yang tidak mendapatkan air untuk wudlu\mandi
........... وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.(an nisa : 43)
RUKUN TAYAMUM:
1. Niat, membaca basmallah
2. Mengusap muka
3. Mengusap tangan
4. Tertib
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ
وَاجْعَلْنِيْ مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ
D. MANDI
Mandi yaitu membersihkan seluruh tubuh dengan air untuk menghilangkan hadas besar atau mandi pada hari jum’at bagi orang yang berkewajiban ibadah shalat jum’at.
Yang berkewajiban mandi Janabat:
1. Perempuan setelah haid/nifas
2. Orang yang telah melakukan jima
3. Orang yang mengalami ihtilam ( mimpi jima)
4. Meninggal dunia
Adapun yang disunahkan untuk mandi janabat :
1. Mandi pada hari jum’at
2. Setelah memandikan mayyit
3. Setelah sembuh dari gila
4. Mualaf (orang yang baru masuk islam )
5. Mandi ketika hari raya
Rukun mandi :
1. Niat
2. Basah seluruh tubuh
Kaifiyat mandi :
1. Niat
2. Mencuci kedua tangan
3. Mencuci kemaluan
4. Berwudlu
5. Memasukan jari -jari kedalam air kemudian menyela-nyela pangkal rambut
6. Menyiramkan air ke kepala tiga kali
7. Memyiramkan air keseluruh tubuh hingga merata( bagian kanan terlebih dahulu)
8. Membersihkan kedua kaki
9. Tertib
Catatan :
1. Bagi wanita boleh tidak membuka sanggul/kepang saat mandi:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِي فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ: لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ
“Dari Ummu Salamah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Aku berkata: “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya aku seorang wanita yang sangat baik mengepang rambutku. Lalu apakah aku melepasnya untuk mandi janabah?” Beliau menjawab: “Tidak usah, cukuplah bagimu menuangkan air ke kepalamu tiga kali caukan, kemudian basahilah tubuhnya dengan air, maka engkau telah bersuci“. [HR Muslim]
2. Jika tidak mendapatkan air untuk mandi boleh tayamum
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ
حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ
فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. An Nisa: 43)
Hanya saja, istijmar biasanya dikhususkan untuk istinja dengan batu. Istijmar sendiri diambil dari kata al-jimar yang berarti kerikil kecil. Sedangkan, disebut juga dengan istithabah karena dampak yang ditimbulkannya (membersihkan kotoran) membuat jiwa terasa nyaman.
Sebagian ulama menjelaskan secara terperinci hukum istinja menjadi 6 jenis. Antara lain sebagai berikut:
1. Wajib: Istinja hukumnya wajib jika yang keluar adalah najis yang kotor lagi basah. Seperti air seni, madzi, dan kotoran manusia.
2. Sunnah: Istinja hukumnya sunnah jika yang keluar adalah najis yang tidak kotor. Contohnya cacing.
3. Mubah: Jika beristinja dari keringat.
4. Makruh: Istinja hukumnya makruh jika yang keluar adalah kentut.
5. Haram: Haram namun sah jika beristinja dengan benda hasil Ghasab. Istinja hukumnya haram dan tidak sah jika beristinja dengan benda yang dimuliakan seperti buah-buahan.
6. Khilaful Aula yakni antara mubah dan makruh: Jika beristinja dengan air zam-zam.
TATACARA ISTINJA
Secara umum, tata cara beristinja ada tiga:
1. Menggunakan air dan batu. Cara ini merupakan cara yang paling utama. Batu dapat menghilangkan bentuk fisik najis. Sementara itu, air yang digunakan harus suci dan menyucikan. Air tersebut dapat menghilangkan bekas najis.
2. Menggunakan air saja.
3. Menggunakan batu saja.
Adapun, batu yang diperbolehkan untuk beristinja haruslah suci, bukan najis atau terkena najis, merupakan benda padat, kesat, dan bukan benda yang dihormati.
Dalam Islam, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan saat buang hajat. Antara lain:
1. Istibra, yaitu mengeluarkan kotoran yang tersisa di dalam makhraj, baik itu air kencing maupun kotoran, sampai dirasa tidak ada lagi kotoran yang tersisa.
2. Diharamkan buang hajat di atas kuburan. Alasan mengenai pendapat ini karena kuburan adalah tempat di mana orang bisa mengambil nasihat dan pelajaran. Maka, termasuk adab sangat buruk jika seseorang justru membuka aurat di atas kuburan dan mengotorinya.
3. Tidak boleh membuang hajat pada air yang tergenang. Diriwayatkan dari Jabir, Rasulullah SAW melarang kencing pada air yang tergenang (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan yang lainnya).
4. Dilarang buang hajat di tempat-tempat sumber air, tempat lalu lalang manusia, dan tempat bernaung mereka. Pendapat ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits.
Rasulullah SAW bersabda: "Berhati-hatilah kalian dari dua hal yang dilaknat (oleh manusia." Para sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan dua penyebab orang dilaknat?" Beliau menjawab, "Orang yang buang hajat di jalan yang biasa dilalui manusia atau di tempat yang biasa mereka bernaung." (HR. Muslim dan Abu Dawud).
5. Dilarang buang hajat dengan menghadap atau membelakangi kiblat.
6. Dimakruhkan bagi orang yang membuang hajat untuk melawan arah angin. Sebab, dikhawatirkan adanya percikan air kencing yang membuatnya terkena najis.
7. Dimakruhkan bagi orang yang sedang buang hajat untuk berbicara. Namun, apabila memang ada kebutuhan maka diperbolehkan untuk berbicara, seperti meminta gayung untuk membersihkan najis.
8. Dimakruhkan menghadap matahari dan bulan secara langsung. Sebab, keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan nikmat-Nya bermanfaat bagi seluruh alam semesta.
Dianjurkan untuk istinja dengan tangan kiri. Sebab, tangan kanan digunakan untuk makan dan sebagainya.
B. WUDHU
Secara Bahasa, wudhu (وضوء) artinya adalah “bagus dan cemerlang.”
Secara Syara’ (Istilah), wudhu (وضوء) adalah istilah untuk suatu kegiatan yang menggunakan air untuk membasuh anggota badan tertentu untuk menghilangkan hadas kecil dengan disertai niat.
Hukumnya adalah wajib bagi orang yang berhadats apabila ia ingin melakukan sholat, thawaf, dan berbagai ibadah yang mensyaratkan suci dari hadats kecil.
Perintah tentang wudhu terdapat dalam QS al maidah :6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.
RUKUN WUDHU:
1. Niat
2. Membasuh muka
3. Membasuh tangan sampai siku
4. Mengusap kepala
5. Mengusap/membasuh kaki sampai mata kaki
6. Tertib
Hitungan dalam Wudhu
a. Berwudu satu kali-satu kali
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما :تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم " مَرَّةً مَرَّةً رواه البخاري
Ibnu ‘Abbas RA berkata “Nabi SAW berwudlu satu kali – satu kali .HR bukhory
b. Berwudlu duakali – dua kali atau tiga kali - tiga kali keculi mengusap kepala
قَالَ عَبْدُ الله بْنُزَيْدٍ رضي الله عنهما :تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم " مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ
(رواه البخاري)
Abdullah ibnu zaid RA berkata “Nabi SAW berwudlu dua kali –dua kali .HR bukhory
قَالَ عَلِيٌّ رضي الله عنه :تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم " ثَلَاثًا ثَلَاثًا سنن الترمذي
‘Aliy RA berkata“Nabi SAW berwudlu tiga kali –tiga kali (sunan at tirmidziy)
فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً
Maka ia menyapu kepalanya satu kali
Kaifiyat Amaliah wajib & sunah dalam berwudhu:
1. Niat
2. Membaca al basmallah
3. Mencuci tangan sampai pergelangan
4. Berkumur – kumur
5. Menghirup air ke hidung (istinsaq)
6. Mencuci muka
7. Membasuh tangan sampai siku
8. Mengusap kepala\kerudung\sorban
9. Mengusap telinga
10. Membasuh kaki sampai mata kaki
11. Berdo’a
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ
C. TAYAMUM
Tayamum adalah menyapu/ mengusap muka dan kedua tangan sampai pergelangan,sebanyak satu kali dengan tanah yang bersih untuk menghilangkan hadats.
Ketentuan Tayamum :
1. Tayamum dilakukan oleh orang yang sakit ( tidak boleh kena air)
2. orang yang sedang dalam perjalanan,
3. orang yang tidak mendapatkan air untuk wudlu\mandi
........... وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.(an nisa : 43)
RUKUN TAYAMUM:
1. Niat, membaca basmallah
2. Mengusap muka
3. Mengusap tangan
4. Tertib
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ
وَاجْعَلْنِيْ مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ
D. MANDI
Mandi yaitu membersihkan seluruh tubuh dengan air untuk menghilangkan hadas besar atau mandi pada hari jum’at bagi orang yang berkewajiban ibadah shalat jum’at.
وَاِنْكُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا .... …
Artinya :
Dan jika kamu junub hendak lah kamu bersuci/mandi (QS. Al-Maidah : 6 )
1. Perempuan setelah haid/nifas
2. Orang yang telah melakukan jima
3. Orang yang mengalami ihtilam ( mimpi jima)
4. Meninggal dunia
Adapun yang disunahkan untuk mandi janabat :
1. Mandi pada hari jum’at
2. Setelah memandikan mayyit
3. Setelah sembuh dari gila
4. Mualaf (orang yang baru masuk islam )
5. Mandi ketika hari raya
Rukun mandi :
1. Niat
2. Basah seluruh tubuh
Kaifiyat mandi :
1. Niat
2. Mencuci kedua tangan
3. Mencuci kemaluan
4. Berwudlu
5. Memasukan jari -jari kedalam air kemudian menyela-nyela pangkal rambut
6. Menyiramkan air ke kepala tiga kali
7. Memyiramkan air keseluruh tubuh hingga merata( bagian kanan terlebih dahulu)
8. Membersihkan kedua kaki
9. Tertib
Catatan :
1. Bagi wanita boleh tidak membuka sanggul/kepang saat mandi:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِي فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ: لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ
“Dari Ummu Salamah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Aku berkata: “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya aku seorang wanita yang sangat baik mengepang rambutku. Lalu apakah aku melepasnya untuk mandi janabah?” Beliau menjawab: “Tidak usah, cukuplah bagimu menuangkan air ke kepalamu tiga kali caukan, kemudian basahilah tubuhnya dengan air, maka engkau telah bersuci“. [HR Muslim]
2. Jika tidak mendapatkan air untuk mandi boleh tayamum
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ
حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ
فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. An Nisa: 43)
Post a Comment for "MATERI THOHAROH (Bersuci dari Hadas dan Najis)"